: : 23 April 2008 : :
Ramadan telah berlalu. Hari kemenangan pun telah tiba. Kebahagiaan tentunya akan dirasakan setiap keluarga di hari Idul Fitri dan idul Fitrah ini. Di hari yang fitri ini, ada momen indah yang tak boleh dilewatkan. Ya, saat lebaran, saling berkunjung antar tetangga, saudara, kolega dan keluarga besar bisa bertemu dan sebuah acara halal bi halal. “Halal bi halal merupakan sebuah momen untuk mensucikan diri, baik hubungan antara makhluk sang khalik maupun hablum minan nas atau hubungan antarmanusia”, kata KH Nur Kholis, mubaligh Selorejo, Blitar dalam ceramah halal bi halal di SMA Negeri 1 Kesamben, yang kebetulan diselenggarakan di rumah Bapak. Kadis, M.Pd salah serang guru SMA Negeri 1 Kesamben, Senin 30 Oktober 2006. Halal bi halal di rumah Bapak Kadis, M.Pd diikuti sekitar 150 orang guru, karyawan, pengurus Komite Sekolah, beserta anggota keluarganya, termasuk Kepala Sekolah Drs. Budiono dan segenap Wakil Kepala Sekolah. Menurut Nur Kholis, demikian mubaligh itu disapa, mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW’ : tahukah kalian sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan?, Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahim, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksa bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali silaturahim (HR Ibnu Majah). Kepala Sekolah Drs.Budiono dalam kesempatan yang sama mengatakan “Ramadan adalah kesempatan melatih diri, kesempatan umat islam mendapat undangan “workshop” dari Allah SWT , tentunya setelah Workshop berakhir kita memperoleh piagam atau tanda lulus dan yang lebih peting lagi ada nilai tambah pada diri kita, dan sekarang saatnya kita aplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata sehar-hari….. Halal bi halal juga merupakan moment yang baik untuk mempererat tali silaturahim. Silaturahim ini tidak hanya saling berjabat tangan, dan mengucapkan kata maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek ketulusan dan keluasan hati. Suasana kembali ke fitrah ini harus dihiasi dengan semangat saling memaafkan dan melupakan dendam serta dengki. Kembali ke fitrah harus tercermin dari tumbuhnya semangat dan kemauan untuk mengubah diri dan lingkungannya menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya, dan semangat lebih berhati-hati menghindarkan diri dari hal-hal yang negatif”. “Bukan hanya guru, karyawan, siswa yang dapat melakukan kesalahan, katanya, Kepala Sekolah juga bisa melakukan hal yang sama. Inilah kesempatan untuk memperbaiki hubungan antarsesama, dengan saling memaafkan atas segala kesalahan, kekhilafan, dosa-dosa yang disengaja maupun tidak, yang besar maupun kecil, yang masih diingat maupun yang sudah terlupakan”, kata Drs. Budiono melajutkan sambutannya. (bd)
[ Kembali ] |