Member Area
Anda harus login untuk mengakses member area
Username
Password
[ Daftar ] [ Lupa Password ] [ Aktifasi ]
 
Jajak Pendapat
Pilihlah mata pelajaran yang paling Anda sukai!
Matematika
Fisika
Kimia
Biologi
Ekonomi-Akuntansi
Sosiologi
Geografi
Sejarah
Bahasa Inggris
Bahasa Indonesia
Bahasa Jepang
Bahasa Jerman
Pendidikan Kesenian
Penjaskes
T I K
Pendidikan Agama
Antropologi
Sastra Indonesia
Pertanian (Mulok)
Tataboga (Mulok)
Seni Proyeksi
[ Lihat Hasil Jajak Pendapat ]
 
Statistik Anggota
Jumlah anggota 252 anggota.
Anggota terbaru Leny
 
Statistik Pengunjung
Anda pengunjung ke 266320
Jumlah Pengunjung online 2
[ 2 tamu ]
Hari ini : 14 Pengunjung
Kemarin : 424 Pengunjung
Bulan ini : 3900 Pengunjung
 
Link Keluar
: : Departemen Pendidikan
: : Kabupaten Blitar
: : SMA Negeri 1 Srengat Online
: : SMA Negeri 1 Talun Online
: : SMA Negeri 1 Sutojayan Online
: : SMA Negeri 1 Ponggok Online
: : Cybermandiri Web Desain
: : Alumni SMAN 1 Kesamben Online
: : Universitas Negeri Malang
: : Universitas Negeri Surabaya
: : Universitas Brawijaya Malang
: : Institut Teknologi Surabaya
: : Universitas Airlangga Surabaya
: : Universitas Gajahmada Yogyakarta
: : Universitas Indonesia
: : Institut Teknologi Bogor
: : Institut Pertanian Bogor
: : Universitas Negeri Jember
: : LPMP Jawa Timur
: : Koran Jawa Pos
: : Universitas 11 Maret Surakarta
: : Universitas Diponegoro
: : Universitas Negeri Yogyakarta
: : Universitas Udayana Bali
: : Universitas Padjadjaran Bandung
: : Universitas Islam Negeri Malang
: : IAIN Sunan Ampel Surabaya
: : Universitas Islam Negeri Jakarta
: : Universitas Islam Negeri Yogyakarta
: : Indonesian Air Force Academy
: : Akademi Angkatan Laut
: : Akademi Militer Magelang
: : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
: : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik
: : STIE Kesuma Negara
: : Sertifikasi Guru
: : Direktorat Pembinaan SMA
: : Buku Sekolah Elektronik
: : Republik Indonesia
: : Presiden RI SBY
: : DPR RI
: : Edukasi Net
: : Poltekes Malang
: : Metro TV
: : SCTV
: : Belajar Matematika
: : Komputer dan Matematika
: : Karya Harun Yahya
: : Al Quran dan Sunnah
: : EF English First
: : Perpustakaan Online
: : Ampindo Blitar
: : Koran Tempo
: : Koran Okezone
: : Koran Kompas
: : TV One
: : Kolom Pak Budiono
 
Perubahan Iklim
: : 29 April 2009 : :

PERUBAHAN IKLIM

 

Indonesia Emiter CO Terbesar dari Aspek Konversi Hutan

(Kompas : Rabu, 29 April 2009 | 03:32 WIB)

Jakarta, Kompas - Tinjauan Bank Pembangunan Asia terhadap dampak ekonomi akibat perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara menunjukkan Indonesia tergolong terbesar mengemisikan gas-gas rumah kaca di tingkat dunia dari sektor kehutanan dan perkebunan. Negeri ini sekaligus paling rentan terkena dampak dari akumulasi gas rumah kaca itu.

David S Mc Cauley dari Bank Pembangunan Asia (ADB) mengemukakan hal itu dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (28/4). Dari hasil analisis ADB berjudul ”The Economics of Climate Change in Southeast Asia: A Regional Review” disebutkan bahwa 59 persen emisi gas rumah kaca (GRK) di kawasan Asia Tenggara tahun 2000 berasal dari Indonesia, terutama diakibatkan meluasnya kerusakan hutan.

Menurut basis data Climate Analysis Indicators Tool (CAIT) World Resources Institute dari Washington, Amerika Serikat, yang dikeluarkan tahun 2008, Asia Tenggara menyumbang emisi GRK dunia 5.187 juta ton. Dari jumlah itu, Indonesia menyumbang 3.060 juta ton (59 persen). Jumlah itu meliputi 7 persen emisi tingkat dunia.

Tata guna lahan

Di Asia Tenggara emisi terbesar bersumber dari perubahan tata guna lahan dan hutan 3.861 juta ton. Sektor ini menyumbang 50 persen emisi global.

Indonesia—dengan 5 persen kawasan tutupan hutan di dunia—berpotensi mengurangi emisi karbon jika praktik pengelolaan hutan dan lahan diperbaiki, yaitu dengan mengurangi kerusakan hutan, reboisasi, dan memperbaiki pengelolaan hutan.

Di negara maju, sektor energi adalah sumber emisi GRK terbesar, 14.728 juta ton, di Asia Tenggara 791 juta ton, dan negara berkembang 9.503 juta ton.

Pakar ekonomi dan lingkungan Emil Salim mengatakan, masyarakat pesisir di Asia Tenggara, 80 persen dari total 563 juta penduduk, akan terkena dampak berupa kenaikan permukaan laut. Dampak lain adalah turunnya curah hujan.

Rizaldi Boer, pakar iklim dari Institut Pertanian Bogor, menambahkan, ”Menghadapi kenaikan muka laut, lebih dari 20 pulau terluar di Indonesia merupakan kawasan yang terkena dampak terbesar,” ujarnya.

Studi ADB menemukan, bila melakukan langkah dini, Indonesia bisa mendapat manfaat lebih besar lewat skema pendanaan dari lembaga dunia. Bila dunia tak melakukan upaya apa pun, negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Filipina, Thailand, dan Filipina, akhir abad ini akan rugi per tahun setara 6 persen PDB masing-masing.

Untuk itu, negara di Asia Tenggara diharapkan menerapkan program Stimulus Hijau untuk memperkuat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, melindungi masyarakat rentan terhadap perubahan iklim, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Juga bisa dilakukan upaya fisik, di antaranya memperbaiki sistem pengelolaan air dan irigasi, menggunakan varietas tanaman tahan kering, melindungi kawasan hutan dari perubahan fungsi, dan membangun tembok perlindungan laut, urai Emil.

Tahun 2008, ADB menyetujui pinjaman 10,5 miliar dollar AS untuk negara di Asia, mendanai proyek hibah 811,4 juta dollar AS, dan bantuan teknis 274,5 juta dollar AS. Menurut Dubes Inggris untuk Indonesia Martin Hatfull, Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan dana 400 juta dollar AS untuk perubahan iklim.

(YUN/MH)


[ Kembali ]
 
Komentar - komentar
Maat komentar untuk berita / informasi ini tidak diaktifkan
 
 
   
Kursus Bahasa Inggris EF English First
   
   
Hak Cipta © By SMA Negeri 1 Kesamben Kesamben Blitar Developed By Cybermandiri
Telp 0342-331397 Email info[at]sman1kesamben[dot]com