: : 23 April 2008 : :
Sumpah Pemuda dan Kekerasan
Setiap 28 Oktober kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebuah momentum nasional yang mengingatkan semangat persatuan dan kesatuan di kalangan generasi muda sebagai manifestasi solidaritas berbangsa. Makna perjuangan dan pergerakan kaum muda itu dilandasi oleh semangat persatuan dan kesatuan Indonesia Raya. Adakah generasi muda kini (pemuda, pelajar, dan mahasiswa) masih memiliki idealisme yang luhur ini?
Kita barangkali sudah jenuh (bahkan muak) melihat, mendengar, dan membaca di media-massa tentang tawuran antarpelajar yang kian memprihatinkan. Sebagian orang menilai tawuran antarpelajar dari sudut pandang psikologi perkembangan kenakalan remaja, atau karena luapan gejolak jiwa muda dalam proses pencarian identitas. Sebagian lain melihatnya sebagai ekses dari revolusi komunikasi (informasi) dan dampak globalisasi.
Tapi, ketika aksi tawuran antarpelajar itu mengganggu ketertiban umum, seperti memacetkan lalu lintas, membajak bus kota, membawa senjata tajam, merusak fasilitas umum, apalagi sampai jatuh korban jiwa, maka gejala ini sudah memasuki wilayah hukum (kriminalitas), anomi massa, dan religiositas. Bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa, sehingga memunculkan pemeo keprihatinan: "Pelajar sekarang sering melempar batu sembunyi otak."
Sebuah pertanyaan bernada klise selalu tampil ketika terjadi aksi tawuran antarpelajar: apa yang menyebabkan pelajar atau mahasiswa begitu beringas dan melakukan keonaran, tawuran, dan tindak kekerasan? Berbagai argumen sosiologis dan psikologis selalu dikedepankan, tapi fenomena ini seakan tak pernah surut. Dalam pandangan psikologi perkembangan, remaja nakal dianggap wajar sebagai proses pencarian identitas. Tapi, pendekatan ini saja tak memadai karena mengabaikan faktor-faktor sosiologis, yang memungkinkan mereka belajar darinya. Dalam kaitan ini, ada dua ciri utama dari pelajar yang sering terlibat aksi kekerasan selama ini.
Pertama, mereka umumnya berasal dari komunitas marginal, baik dari aspek latar belakang ekonomi keluarga, maupun asal sekolah mereka. Dengan kata lain, aksi tawuran jarang dilakukan oleh pelajar dari sekolah favorit (elite), atau pelajar yang memiliki prestasi akademis di sekolah, atau dari kalangan berpunya. Kedua, aksi tawuran antarpelajar selalu menunjukkan gejala pengelompokan massa dengan agresivitas yang progresif. Kondisi ini, boleh jadi, karena faktor jiwa muda yang ingin menunjukkan bahwa mereka lebih hebat dari yang lainnya.
Teori agresivitas manusia muncul sebagai akibat kenyataan hidup yang selalu memperoleh tekanan dari kondisi sekitar. Sementara fenomena anak muda selalu ingin bebas dari tekanan, dan penuh idealisme. Dalam kehidupan metropolis, apa yang diimpikan selalu tersedia, tapi mereka tak dapat memilikinya karena kondisi ekonomi keluarganya. Sementara bagi pelajar dari kalangan mampu, hampir tak ada hambatan dalam meraih keinginan-keinginan itu.
Antonio Gramsci menyebut fenomena ini karena mereka terkungkung dalam suatu blok sosial (social block) , yang membuat mereka tak dapat berbuat banyak kecuali pasrah pada kenyataan hidup. Sikap inilah yang tampaknya selalu bergejolak dalam diri pelajar. Tanpa disadari, blok-blok sosial itu muncul bersamaan dengan kecenderungan untuk saling menolak gaya hidup, budaya, serta kepastian masa depan.
Sosiolog A.H. Halsey membuktikan bahwa ada korelasi positif antara latar belakang keluarga, keberhasilan pendidikan, dan pekerjaan anak-anak mereka. Bahwa anak-anak dari kaum berada niscaya memperoleh pendidikan lebih terjamin sekaligus berkaitan langsung dengan kepastian masa depannya. Sementara bagi anak-anak dari kaum marginal, sudah pasti berada di garis pinggir dengan ketidakpastian masa depan; meminjam istilah filsuf Prancis Pierre Bourdieu, keberuntungan selalu berpihak kepada kelompok "pemilik modal budaya", yakni anak-anak dari kalangan berpunya.
Aspek lainnya, tak jauh dari persoalan gangguan kejiwaan, seperti rasa cemas dan depresi. Ini merupakan ekses dari kurangnya siraman rohani dan proses pendangkalan pendidikan moral di sekolah, lingkungan, dan di rumah. Keringnya pendalaman agama itu menyebabkan mereka cenderung brutal dan terjerumus dalam perangkap narkoba serta pergaulan bebas (free sex) . Efeknya, menjadi pemurung dan cemas yang akhirnya stres dan depresi. Pembenahan yang efektif ialah kembali kepada ajaran moral dan pendidikan agama.
Maka, sungguh tepat jika momentum Hari Sumpah Pemuda ini kita jadikan sebagai pijakan bersama dalam mencermati peranan generasi muda pada aksi-aksi massa (tawuran antarpelajar, demonstrasi mahasiswa) yang kerap diikuti oleh perilaku vandalisme, seperti merusak fasilitas umum, membakar mobil militer, dan tindakan-tindakan lain di luar koridor hukum, rasa keadilan, dan hati nurani.
Apabila fenomena ini dihadapkan pada aspek moral, maka persoalan ini menjadi semakin kompleks, semakin menjauh dari aspek perasaan dan daya serap hati dari inti keimanan. Maka, akan terasa indah dan suasana harmonis yang humanistis, bila pembenaran terhadap tindak kekerasan itu kita kembalikan pada porsinya yang asasi, yang menggunakan rasio di luar kesadaran rohaniah yang mengganggu norma kehidupan. Di satu sisi "membenarkan" dan di sisi lain "menyalahkan", atau "menguntungkan" di satu pihak, sedangkan pihak lain "dirugikan".
Sebagai langkah awal dalam menyatukan langkah dan kesatuan pandangan dalam kehidupan bermasyarakat, aksentuasi pada kesamaan landasan yang berpijak bagi normalisasi kehidupan bermasyarakat--yang melintasi batas-batas entitas etnis dan agama--harus dikedepankan. Kesadaran ini penting bagi generasi muda sebagai suatu sistem operasional, di samping secara moral ia wajib berbuat kebajikan dalam setiap tindakan dan gerak hati nuraninya, dan mampu memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sosialnya, serta pandai melihat peluang untuk kesuksesan masa depannya.
Adolf Hitler boleh mati, tapi imajinasi tindakannya tetap hidup untuk memberi inspirasi bagi kehadiran banyak teori tentang agresivitas. Meski tak ada kaitannya dengan sang Fuhrer, gejala aksi kekerasan dan tawuran antarpelajar akhir-akhir ini memaksa kita untuk meninjau kembali teori agresivitas itu. Kaum neoinstingtivis seperti Konrad Lorenz melihat perilaku agresif itu sebagai orang yang memiliki "naluri hewani" (animal instinct) yang inheren dalam diri manusia.
Namun, teori neoinstingtivis ini dibantah oleh kaum neobehavioris seperti Skinner. Menurutnya, agresivitas tidak berkaitan dengan karakter individual, melainkan bentukan sosial; atau lebih determinan dalam menentukan watak agresif seseorang daripada persoalan individual. (Koran Tempo)
[ Kembali ] |